Sejarah Bromo

Gunung Bromo . Nama Bromo berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Brahma, nama seorang dewa utama umat Hindu. Bromo merupakan salah satu gunung aktif yang menjadi objeck wisata paling terkenal di Jawa Timur..

Gunung Bromo berketinggian 2.392 mdpl, Gunung Bromo dikelilingi lautan pasir dan tebing curam kaldera raksasa gunung Tengger seluas sekitar 10 km2.

Kawah gunung Bromo berdiameter ± 800 m dari utara ke selatan dan ± 600 m dari timur ke barat. Sedangkan kaldera raksasa yang mengelilinginya berupa lingkaran raksasa berdiameter 4km.

Penduduk Tengger (suku Tengger)  adalah nama suku  yang tinggal di lereng gunung Bromo. Suku tengger mayoritas beragama Hindu, mereka dikenal taat dengan aturan adat dan agama  mereka . Penduduk tengger meyakini bahwa mereka keturunan langsung dari kerajaan Majapahit. Nama Tengger berasal dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger . Kata “Teng” diambil dari akhiran nama Roro anteng, dan “Ger” berasal dari akhiran nama Joko Seger.

Bagi penduduk Tengger (masyarakat yang tinggal di lereng Bromo), Gunung Bromo (Brahma) dipercaya sebagai gunung suci. Setiap tahun penduduk Tengger mengadakan upacara  Yadnya Kasada (Kasodo). Bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.